Serdang, 10 September 2013
.
A. SEJARAH
1. Pengertian.
B. KEDUDUKAN DAN SIFAT
1. Kedudukan.
2. Sifat.
C. TUJUAN
D. PERAN DAN FUNGSI
1. Peran.
2. Fungsi.
E. Organisasi
Kepengurusan Komite Sekolah
Pengurus Komite Sekolah adalah personal yang ditetapkan berdasarkan kriteria sebagai berikut :
1. Prinsip Pembentukan.
2. Mekanisme Pembentukan.
3. Penetapan Pembentukan Komite Sekolah.
Panduan ini merupakan acuan utama untuk membentuk dan/atau memperluas
peran, fungsi, dan keanggotaan Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah.
Dalam membentuk badan tersebut, pemrakarsa dapat berkonsultasi dengan
pemerintah kabupaten/kota. Pembentukan Dewan Pendidikan dan Komite
Sekolah dapat diatur melalui Peraturan Daerah yang berkaitan dengan
pengelolaan pendidikan di kabupaten/kota
Semoga artikel di atas dapat bermanfaat dan menjadi bahan pertimbangan bagi kita semua dalam mengambil suatu keputusan yang lebih arif dan bijaksana. Amin. Wassalam
Sumber : http://www.depdiknas.go.id
.
A. SEJARAH
1. Pengertian.
Para perencana pembangunan mengartikan partisipasi sebagai dukungan
terhadap rencana atau proyek pembangunan yang direncanakan dan
ditentukan oleh pemerintah. Ukuran partisipasi masyarakat diukur oleh
berapa besar sumbangan yang diberikan masyarakat untuk ikut menanggung
biaya pembangunan, baik berupa uang maupun tenaga yang diberikan kepada
pemerintah. Partisipasi yang berlaku secara universal adalah kerja sama
yang erat antara perencana dan rakyat dalam merencanakan, melaksanakan,
melestarikan, dan mengembangkan hasil pembangunan yang telah dicapai.
Sebagai konsekuensi perluasan makna partisipasi masyarakat dalam
penyelenggaraan pendidikan pada tingkat satuan pendidikan, maka perlu
dibentuk suatu wadah untuk menampung dan menyalurkannya yang diberi nama
Komite Sekolah / Madrasah. Komite Sekolah / Madrasah adalah badan
mandiri yang mewadahi peran serta masyarakat dalam rangka meningkatkan
mutu, pemerataan, dan efisiensi pengelolaan pendidikan di satuan
pendidikan, baik pada pendidikan pra sekolah, jalur pendidikan sekolah
maupun jalur pendidikan luar sekolah.
Komite Sekolah / Madrasah merupakan suatu badan atau lembaga non profit
dan non politis, dibentuk berdasarkan musyawarah yang demokratis oleh
para stake-holder pendidikan pada tingkat satuan pendidikan sebagai
representasi dari berbagai unsur yang bertanggungjawab terhadap
peningkatan kualitas proses dan hasil pendidikan.
2. Nama.
Ditinjau dari perspektif sejarah persekolahan pada tingkat SD/MI,
SLTP/MTs, dan SMU/SMK/MA di Indonesia, masyarakat sekolah, khususnya
orang tua siswa, telah memerankan sebagian fungsinya dalam membantu
penyelenggaraan pendidikan. Sebelum tahun 1974 masyarakat orang tua
siswa di lingkungan masing-masing sekolah telah membentuk Persatuan
Orang Tua Murid dan Guru (POMG).
Sesuai dengan perkembangan tuntutan masyarakat terhadap penyelenggaraan
pendidikan jalur sekolah semakin meningkat, maka POMG pada awal tahun
1974 dibubarkan dan dibentuk suatu badan yang dikenal dengan Badan
Pembantu Penyelenggara Pendidikan (BP3). Pasang surut perkembangan
penyelenggaraan pendidikan jalur dan jenis sekolah, tidak dapat
dilepaskan dari partisipasi masyarakat, khususnya orang tua peserta
didik termasuk keberadaan BP3.
Seiring dengan perkembangan tuntutan masyarakat terhadap kualitas
pelayanan dan hasil pendidikan yang diberikan oleh sekolah, dan dalam
rangka mencapai tujuan pendidikan nasional melalui upaya peningkatan
mutu, pemerataan, dan efisiensi penyelenggaraan pendidikan, dan
tercapainya demokratisasi pendidikan, perlu adanya dukungan dan peran
serta masyarakat untuk bersinergi dalam suatu wadah yang lebih sekedar
lembaga pengumpul dana pendidikan dari orang tua siswa.
Pada saat ini, selain adanya BP3 dibentuk pula Komite Sekolah / Madrasah
(di beberapa sekolah yang memperoleh program khusus), beranggotakan
kepala Sekolah / Madrasah sebagai ketua dan salah seorang Guru, Ketua
BP3, Ketua LKMD dan Tokoh Masyarakat sebagai anggota. Pembentukan komite
dimaksudkan untuk menangani pelaksanaan rehabilitasi bangunan sekolah
(SD dan MI), dan pembangunan unit sekolah baru (SLTP dan MTs), sedangkan
di SMK, selain terdapat BP3 dibentuk juga Majelis Sekolah yang
mempunyai peran menjembatani sekolah dengan industri dalam pelaksanaan
Pendidikan Sistem Ganda (PSG), dan Bursa Kerja Khusus (BKK) yang
merupakan kerja sama sekolah dengan Depnaker dalam pemasaran lulusan.
Kondisi nyata tersebut dalam memasuki era Manajemen Berbasis Sekolah
(MBS) perlu dibenahi selaras dengan tuntutan perubahan yang dilandasi
kesepakatan, komitmen, kesadaran, dan kesiapan membangun budaya baru dan
profesionalisme dalam mewujudkan “Masyarakat Sekolah” yang memiliki
loyalitas pada peningkatan mutu sekolah. Untuk terciptanya suatu
masyarakat sekolah yang kompak dan sinergis, maka Komite Sekolah
merupakan bentuk atau wujud kebersamaan yang dibangun melalui
kesepakatan (SK Mendiknas Nomor 044/U/2002).
Komite Sekolah / Madrasah adalah nama badan yang berkedudukan pada satu
satuan pendidikan, baik jalur sekolah maupun luar sekolah, atau beberapa
satuan pendidikan yang sama di satu kompleks yang sama. Nama Komite
Sekolah merupakan nama generik. Artinya, bahwa nama badan disesuaikan
dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing satuan pendidikan, seperti
Komite Sekolah, Komite Pendidikan, Komite Pendidikan Luar Sekolah, Dewan
Sekolah, Majelis Sekolah, Majelis Madrasah, Komite TK, atau nama
lainnya yang disepakati. Dengan demikian, organisasi yang ada tersebut
dapat memperluas fungsi, peran, dan keanggotaannya sesuai dengan panduan
ini atau melebur menjadi organisasi baru, yang bernama Komite Sekolah
(SK Mendiknas Nomor 044/U/2002). Peleburan BP3 atau bentuk-bentuk
organisasi lain yang ada di sekolah, kewenangannya akan berkembang
sesuai kebutuhan dalam wadah Komite Sekolah.
B. KEDUDUKAN DAN SIFAT
1. Kedudukan.
Komite Sekolah berkedudukan di satuan pendidikan, baik sekolah maupun
luar sekolah. Satuan pendidikan dalam berbagai jenjang, jenis, dan jalur
pendidikan, mempunyai penyebaran lokasi yang amat beragam. Ada sekolah
tunggal dan ada sekolah yang berada dalam satu kompleks. Ada sekolah
negeri dan ada sekolah swasta yang didirikan oleh yayasan penyelenggara
pendidikan. Oleh karena itu, maka Komite Sekolah dapat dibentuk dengan
alternatif sebagai berikut :
1. Komite Sekolah yang dibentuk di satu satuan pendidikan. Satuan
pendidikan sekolah yang siswanya dalam jumlah yang banyak, atau sekolah
khusus seperti Sekolah Luar Biasa, temasuk dalam ketegori yang dapat
membentuk Komite Sekolah sendiri.
2. Komite Sekolah yang dibentuk untuk beberapa satuan pendidikan sekolah
yang sejenis. Sebagai misal, beberapa SD / MI yang terletak di dalam
satu kompleks atau kawasan yang berdekatan dapat membentuk satu Komite
Sekolah.
3. Komite Sekolah yang dibentuk untuk beberapa satuan pendidikan yang
berbeda jenis dan jenjang pendidikan dan terletak di dalam satu kompleks
atau kawasan yang berdekatan. Sebagai misal, ada satu kompleks
pendidikan yang terdiri dari satuan pendidikan TK, SD, SLB, dan SMU, dan
bahkan SMK dapat membentuk satu Komite Sekolah.
4. Komite Sekolah yang dibentuk untuk beberapa satuan pendidikan yang
berbeda jenis dan jenjang pendidikan milik atau dalam pembinaan satu
yayasan penyelenggara pendidikan, misalnya sekolah-sekolah di bawah
lembaga pendidikan Muhammadiyah, Al Azhar, Al Izhar, Sekolah Katholik,
Sekolah Kristen, dsb.
2. Sifat.
Komite Sekolah / Madrasah merupakan badan yang bersifat mandiri, tidak
mempunyai hubungan hierarkis dengan sekolah maupun lembaga pemerintah
lainnya. Komite Sekolah dan Lingkungan Sekolah memiliki kemandirian
masing-masing, tetapi tetap sebagai mitra yang harus saling bekerja sama
sejalan dengan konsep manajemen berbasis sekolah (MBS).
Dibentuknya Komite Sekolah dimaksudkan agar adanya suatu organisasi
masyarakat sekolah yang mempunyai komitmen dan loyalitas serta peduli
terhadap peningkatan kualitas sekolah. Komite Sekolah yang dibentuk
dapat dikembangkan secara khas dan berakar dari budaya, demografis,
ekologis, nilai kesepakatan, serta kepercayaan yang dibangun sesuai
potensi masyarakat setempat. Oleh karena itu, Komite Sekolah yang
dibangun harus merupakan pengembangan kekayaan filosofis masyarakat
secara kolektif. Artinya, Komite Sekolah mengembangkan konsep yang
berorientasi kepada pengguna (client model), berbagai kewenangan (power
sharing and advocacy model) dan kemitraan (partnership model) yang
difokuskan pada peningkatan mutu pelayanan pendidikan.
Adapun tujuan dibentuknya Komite Sekolah sebagai suatu organisasi masyarakat sekolah adalah sebagai berikut :
1.Mewadahi dan menyalurkan aspirasi dan prakarsa masyarakat dalam
melahirkan kebijakan operasional dan program pendidikan di satuan
pendidikan.
2.Meningkatkan tanggung jawab dan peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan di satuan pendidikan.
3.Menciptakan suasana harmonis, akuntabel, dan demokratis dalam
penyelenggaraan dan pelayanan pendidikan yang bermutu di satuan
pendidikan.
1. Peran.
Keberadaan Komite Sekolah harus bertumpu pada landasan partisipasi
masyarakat dalam meningkatkan kualitas pelayanan dan hasil pendidikan di
sekolah. Oleh karena itu, pembentukannya harus memperhatikan pembagian
peran sesuai posisi dan otonomi yang ada. Adapun peran yang dijalankan
Komite Sekolah adalah sebagai berikut :
a.Pemberi pertimbangan (advisory agency) dalam penentuan dan pelaksanaan kebijakan pendidikan di satuan pendidikan.
b.Pendukung (supporting agency), baik yang berwujud finansial,
pemikiran, maupun tenaga dalam penyelenggaraan pendidikan di satuan
pendidikan.
c.Pengontrol (controlling agency) dalam penyelenggaraan kegiatan di satuan pendidikan.
d.Mediator antara pemerintah (eksekutif) dengan masyarakat di satuan pendidikan.
2. Fungsi.
Untuk menjalankan perannya itu, Komite Sekolah memiliki fungsi sebagai berikut :
a.Mendorong tumbuhnya perhatian dan komitmen masyarakat terhadap penyelenggaraan pendidikan yang bermutu.
b.Melakukan kerja sama dengan masyarakat (perorangan/organisasi/ dunia
usaha/dunia industri) dan pemerintah berkenaan dengan penyelenggaraan
pendidikan yang bermutu.
c.Menampung dan menganalisis aspirasi, ide, tuntutan, dan berbagai kebutuhan pendidikan yang diajukan oleh masyarakat.
d.Memberikan masukan, pertimbangan, dan rekomendasi kepada satuan pendidikan mengenai:
1) Kebijakan dan Program Pendidikan.
2) Kriteria Kinerja Satuan Pendidikan.
3) Kriteria Tenaga Kependidikan.
4) Kriteria Fasilitas Pendidikan.
5) Hal-hal lain yang terkait dengan penyelenggaraan pendidikan.
e.Mendorong orang tua dan masyarakat berpartisipasi dalam pendidikan guna mendukung peningkatan mutu dan pemerataan pendidikan.
f.Menggalang dana masyarakat dalam rangka pembiayaan penyelenggaraan pendidikan di satuan pendidikan.
g.Melakukan evaluasi dan pengawasan terhadap kebijakan, program, dan penyelenggaraan di satuan pendidikan.
Komite Sekolah sesuai dengan peran dan fungsinya, melakukan akuntabilitas sebagai berikut.
- Komite Sekolah menyampaikan hasil kajian pelaksanaan program sekolah
kepada stakeholder secara periodik, baik yang berupa keberhasilan maupun
kegagalan dalam pencapaian tujuan dan sasaran program sekolah.
- Menyampaikan laporan pertanggungjawaban bantuan masyarakat baik berupa
materi (dana, barang tak bergerak maupun bergerak), maupun non materi
(tenaga, pikiran) kepada masyarakat dan pemerintah setempat.
Kepengurusan Komite Sekolah
Pengurus Komite Sekolah ditetapkan berdasarkan AD/ART yang
sekurang-kurangnya terdiri atas seorang ketua, sekretaris, bendahara,
dan bidang-bidang tertentu sesuai dengan kebutuhan. Pengurus komite
dipilih dari dan oleh anggota secara demokratis. Khusus jabatan ketua
komite bukan berasal dari kepala satuan pendidikan. Jika diperlukan
dapat diangkat petugas khusus yang menangani urusan administrasi Komite
Sekolah dan bukan pegawai sekolah, berdasarkan kesepakatan rapat Komite
Sekolah.
Pengurus Komite Sekolah adalah personal yang ditetapkan berdasarkan kriteria sebagai berikut :
a. Dipilih dari dan oleh anggota secara demokratis dan terbuka dalam musyawarah Komite Sekolah.
b. Masa kerja ditetapkan oleh musyawarah anggota Komite Sekolah.
c. Jika diperlukan pengurus Komite Sekolah dapat menunjuk atau dibantu
oleh tim ahli sebagai konsultan sesuai dengan bidang keahliannya.
Mekanisme kerja pengurus Komite Sekolah dapat diidentifikasikan sebagai berikut :
a.Pengurus komite Sekolah terpilih bertanggungjawab kepada musyawarah anggota sebagai forum tertinggi sesuai AD dan ART.
b.Pengurus Komite Sekolah menyusun program kerja yang disetujui melalui
musyawarah anggota yang berfokus pada peningkatan mutu pelayanan
pendidikan peserta didik.
c.Apabila pengurus Komite Sekolah terpilih dinilai tidak produktif dalam
masa jabatannya, maka musyawarah anggota dapat memberhentikan dan
mengganti dengan kepengurusan baru.
d.Pembiayaan pengurus Komite Sekolah diambil dari anggaran Komite Sekolah yang ditetapkan melalui musyawarah.
Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga.
Komite Sekolah wajib memiliki AD/ART. Anggaran Dasar sekurang-kurangnya memuat :
a. Nama dan tempat kedudukan.
b. Dasar, tujuan, dan kegiatan.
c. Keanggotaan dan kepengurusan.
d. Hak dan kewajiban anggota dan pengurus.
e. Keuangan.
f. Mekanisme kerja dan rapat-rapat.
g. Perubahan AD dan ART, serta pembubaran organisasi.
Anggaran Rumah Tangga sekurang-kurangnya memuat :
a. Mekanisme pemilihan dan penetapan anggota dan pengurus Komite Sekolah.
b.Rincian tugas Komite Sekolah.
c. Mekanisme rapat.
d. Kerja sama dengan pihak lain.
e. Ketentuan penutup.
F. PEMBENTUKAN KOMITE SEKOLAH
Pembentukan Komite Sekolah harus dilakukan secara transparan, akuntabel,
dan demokratis. Dilakukan secara transparan adalah bahwa Komite Sekolah
harus dibentuk secara terbuka dan diketahui oleh masyarakat secara luas
mulai dari tahap pembentukan panitia persiapan, proses sosialisasi oleh
panitia persiapan, kriteria calon anggota, proses seleksi calon
anggota, pengumuman calon anggota, proses pemilihan, dan penyampaian
hasil pemilihan. Dilakukan secara akuntabel adalah bahwa panitia
persiapan hendaknya menyampaikan laporan pertanggungjawaban kinerjanya
maupun penggunaan dana kepanitiaan. Dilakukan secara demokratis adalah
bahwa dalam proses pemilihan anggota dan pengurus dilakukan dengan
musyawarah mufakat. Jika dipandang perlu pemilihan anggota dan pengurus
dapat dilakukan melalui pemungutan suara.
2. Mekanisme Pembentukan.
Pembentukan komite Sekolah diawali dengan pembentukan panitia persiapan
yang dibentuk oleh kepala satuan pendidikan dan/atau oleh atau oleh
masyarakat. Panitia persiapan berjumlah sekurang-kurangnya 5 (lima)
orang yang terdiri atas kalangan praktisi pendidikan (seperti guru,
kepala satuan pendidikan, penyelenggara pendidikan), pemerhati
pendidikan (LSM peduli pendidikan, tokoh masyarakat, tokoh agama, dunia
usaha dan industri), dan orang tua peserta didik.
Panitia persiapan bertugas mempersiapkan pembentukan Komite Sekolah dengan langkah-langkah sebagai berikut :
- Mengadakan forum sosialisasi kepada masyarakat (termasuk
pengurus/anggota BP3, Majelis Sekolah, dan Komite Sekolah yang sudah
ada) tentang Komite Sekolah menurut keputusan ini.
- Menyusun kriteria dan mengidentifikasi calon anggota berdasarkan usulan dari masyarakat;
- Menyeleksi anggota berdasarkan usulan dari masyarakat;
- Mengumumkan nama-nama calon anggota kepada masyarakat;
- Menyusun nama-nama anggota terpilih;
- Memfasilitasi pemilihan pengurus dan anggota Komite Sekolah;
- Menyampaikan nama pengurus dan anggota Komite Sekolah kepada kepala satuan pendidikan.
- Panitia Persiapan dinyatakan bubar setelah Komite Sekolah terbentuk.
3. Penetapan Pembentukan Komite Sekolah.
Calon anggota Komite Sekolah yang disepakati dalam musyawarah atau
mendapat dukungan suara terbanyak melalui pemungutan suara secara
langsung menjadi anggota Komite Sekolah sesuai dengan jumlah anggota
yang disepakati dari masing-masing unsur. Komite Sekolah ditetapkan
untuk pertama kali dengan Surat Keputusan kepala satuan pendidikan, dan
selanjutnya diatur dalam AD dan ART. Misalnya dalam Anggaran Dasar dan
Anggaran Rumah Tangga disebutkan bahwa pemilihan anggota dan pengurus
Komite Sekolah ditetapkan oleh musyawarah anggota Komite Sekolah.
Pengurus dan anggota komite terpilih dilaporkan kepada pemerintah daerah
dan dinas pendidikan setempat. Untuk memperoleh kekuatan hukum, Komite
Sekolah dapat dikukuhkan oleh pejabat pemerintahan setempat. Misalnya
Komite Sekolah untuk SD dan SLTP dikukuhkan oleh Camat dan Kepala Cabang
Dinas Pendidikan Kecamatan; SMU/SMK dikukuhkan oleh Kepala Dinas
Kabupaten/Kota dan Bupati/Walikota.
G. KESIMPULAN
Semoga artikel di atas dapat bermanfaat dan menjadi bahan pertimbangan bagi kita semua dalam mengambil suatu keputusan yang lebih arif dan bijaksana. Amin. Wassalam
Sumber : http://www.depdiknas.go.id
Tidak ada komentar:
Posting Komentar